Merajut Harmoni dari Akar Rumput: Strategi Uniwara dalam Penguatan Kampung Moderasi
Di tengah riuh suasana peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama ke-80, sebuah pesan penting bergema dari ruang pertemuan Rumah Makan Kurnia, Pasuruan, Senin (22/12/2025). Dr. Dies Nurhayati, M.Pd., tokoh pendidikan sekaligus mantan Rektor Uniwara Pasuruan, membedah urgensi "Kampung Moderasi Beragama" bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai benteng terakhir pencegahan konflik sosial.
Dalam seminar bertajuk Penguatan Implementasi Kampung Moderasi Beragama Sebagai Pilar Kerukunan Masyarakat, Dies Nurhayati menekankan bahwa kerukunan di level akar rumput adalah fondasi bagi stabilitas nasional.
Strategi Pencegahan Konflik:
Deteksi Dini dan Edukasi
Menurut Dies, konflik sosial seringkali dipicu oleh sumbatan komunikasi dan prasangka yang tidak terkelola. Beliau menawarkan dua pendekatan utama dalam strategi pencegahan: Pendidikan Nilai yang Inklusif: Kerukunan tidak datang secara alami, melainkan melalui proses belajar. Kurikulum pendidikan formal maupun informal harus mampu menanamkan bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman.
Ruang Dialog Terbuka: Kampung Moderasi harus menjadi wadah di mana warga dari berbagai latar belakang bisa duduk bersama, berdialog, dan menyelesaikan gesekan kecil sebelum membesar menjadi bara konflik.
Toleransi Bukan Sekadar Menahan Diri
Dalam paparannya, Dies Nurhayati menggarisbawahi bahwa toleransi sejati bukanlah sikap pasif atau sekadar "membiarkan".
"Toleransi yang kita bangun di Kampung Moderasi adalah toleransi aktif. Artinya, ada keterlibatan emosional dan gotong royong antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya di hadapan para peserta seminar.
Beliau melihat peran tokoh masyarakat dan akademisi sangat krusial dalam memberikan keteladanan. Implementasi Kampung Moderasi harus mampu menyentuh aspek sosiologis masyarakat Pasuruan yang religius namun heterogen.
Pilar Kerukunan di Masa Depan
Peringatan HAB Kemenag ke-80 tahun 2026 ini menjadi momentum refleksi. Dies berharap bahwa konsep Kampung Moderasi tidak berhenti pada tataran seremonial. Strategi pencegahan konflik yang beliau paparkan menuntut kolaborasi lintas sektoral—antara pemerintah, tokoh agama, dan institusi pendidikan seperti Uniwara.
Dengan sinergi yang kuat, Pasuruan diharapkan mampu menjadi pionir dalam mewujudkan masyarakat yang tidak hanya rukun di permukaan, tetapi juga solid dalam prinsip kebangsaan dan kemanusiaan.
